Cerpen 2008 : Aku ingin menulis kisah yang Indah

catatan tahun lalu yang terselamatkan : 

 

Aku ingin menulis kisah yang indah,bukan hanya derita atau penderitaan yang terus ada dan akan setia menemani anak cucu Adam, sejak anak-cucu adam dilahirkan ke bumi ini.

| |

 

   Perhatikan rasa sakit yang mengirimu saat kau dilahirkan, kau disambut dengan cedak kebahagiaan dan tawa yang kau tidak mengerti, kau begitu terkejut menyaksikan wajah-wajah hitam penuh dosa, manusia.

 

|

Ada juga manusia yang menyesali mengapa harus tercipta sebagai manusia? Mengapa tidak jadi batu saja, atau debu padang pasir, ya. Mungkin, karena manusia itu mengalami kemalangan demi kemalangan yang tak terduga, oleh karena itu, dia menyesal sebagai manusia – keputusasaan tertahan.

 

Usia yang merambat menuju kepala tiga, tidak juga membuatmu mendewasa, kau semakin ketakutan, mendengar kata pernikahan, anak, istri, keluarga, cucu, pesta, kawin, cerai, kau telah menjelma menjadi sisi dirimu yang lain.

 

Sungguh aku sangat serius ingin menulis kisah yang indah. Cerita tentang anak manusia yang mencari pendamping hidup. Ia mengatakan suka pada seorang gadis yang tinggal satu desa dengan ia, lalu gadis itu mengatakan agar ia menunggu tiga tahun. Gembira sekali pria itu, namun sayang kegembiraan yang disyukurinya terjadi hanya dalam waktu satu bulan, sebab gadisnya masih berhubungan dengan mantan kekasihnya.

Dengan hati berdarah-darah, ia memutuskan hubungan bahwa ia sebagai pria tak kuasa memaksakan cinta pada gadis yang saling mencintai dengan lelaki lain. Ia lepaskan saja gadis itu, ia mengatakan mulai hari ini kita tidak ada hubungan lagi, aku membebaskanmu dari segala ikatan denganku, terserah kamu, aku janji tidak akan menelpon atau sms lagi, kita putus.

 

Tak disangka, kisah indah yang dibayangkan sang pria harus berakhir derita di hatinya, pria itu sadar bahwa alasan ia ditolak adalah karena ia terlahir sebagai pria yang tidak rupawan, buruk muka, miskin, tak punya mobil. Dari lubuk hatinya yang dalam ia berbisik pada tuhannya, “Tuhan, kau pasti sudah mati, kau tidak hanya tuli tuhan, kau telah disembelih oleh kapitalis yang lebih percaya pada tuhan bernama uang dan materialisme ketimbang bertuhan yang tidak segera memberi ketika anak manusia lapar dan minta permen coklat,”.

 

 

“Tuhan, aku menyembahmu bertahun-tahun, aku terus menyebut namamu dalam derita hidupku yang tak berkesudahan, lalu kenapa hanya satu saja permintaanku kali ini, aku ingin memilikinya, engkau tidak bersedia mengabulkan, Tuhan aku harus minta bantuan siapa?, manusia sama mengecewakannya, manusia tidak lebih serigala jahat dengan senyum manis dan hati yang culas, memangsa korban-korbannya,” pria itu menjerit tengah malam.

 

 

“Tuhan, aku tahu ini bukanlah kisah Musa, kau akan berbicara langsung kepadaku. Tetapi bisakah kita membuat kesepakatan, Tuhan anggaplah ini adalah kontrakku dengan, bahwa aku gadaikan semua jiwaku padamu demi cinta seorang wanita yang suci. Tuhan, aku tahu aku bukan hambamu yang taat, namun aku tak mau menggadaikan jiwaku pada iblis, Tuhan aku percaya diantara tangan-tanganMu yang terbelenggu karena kebaikan penjahat-penjahat yang memberi pinjaman saat kau kolaps, masih ada sisa keajaiban yang tersisa,”
pria itu sesenggukan bersimpuh menghadap Tuhannya.

 

Aku ingin menulis kisah dengan indah, namun yang hadir bayangan-bayangan dan mimpi-mimpi gelap malam,

 

Advertisements

11 thoughts on “Cerpen 2008 : Aku ingin menulis kisah yang Indah

  1. Sawali Tuhusetya

    wah, tulisannya cukup reflektif, bahkan mas ilyas sempat juga menggugat Tuhan. tapi kalau menurutku, kisah2 yang indah justru yang mengungkap tentang derita dan tragisme kehidupan, mas. kalau kita baca cerpen karya danarto, ceceran darah justru bisa menjadi adonan yang begitu manis, suara ledakan pistol bisa juga terdengar seperti sebuah pertujunjukan orkestra.

    Like

    Reply
    1. ILYAS ASIA Post author

      Bapak, saya akan baca kembali karya-karya sastra baik cerpen ataupun karya yangbelum tuntas saya baca.

      Like

      Reply
  2. Sawali Tuhusetya

    tapi saya juga suka banget dg gaya bahasa mas ilyas yang bernas. tdk bertele-tele. konon cerpen kontemporer sekarang ini tal lagi suka menggunakan bahasa yang bersayap dan berbunga-bunga. itu trend bahasa yang digunakan pada masa balai pustaka dan pujangga baru. ayo, mas ilyas, tulisan sampeyan menunjukkan bahwa mas ilyas sudah saatnya menulis cerpen. ayo, tunggu apa lagi. mohon maaf, baru bisa berkunjung, ternyata ngurus 5 blog bukan pekerjaan yang mudah, hehe ….

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s