Ramadhan Terindah Adalah Tahun ini (Sebuah Puisi Hati)

Ramadhan terindah adalah Tahun ini
Begitulah, kalimat yang aku ulang-ulang setiap ramadhan datang.

Ramadhan kali ini, menghadiahi aku sebuah puisi
Puisi rindu kepada Pemilik Bulan ramadhan
Puisi Syahdu yang hanya hadir menjelang Ramadhan datang

Ramadhan Terbaik adalah Tahun ini
Tahun ketika aku bisa berpuasa di dalamnya
Tahun ketika aku kembali sholat tarawih
dan Air mata taubat berlinang diantara sahutan sholawat pada sela-sela 20 rokaat tarawih
Ramadhan ketika aku kembali bersujud dan menangisi kelemahanku sebagai manusia
dan
mengakui betapa Hebatnya Tuhanku, tuhan Pemilik segala Bulan, Penguasa Lailatul qodar

Ramadhan Terindah adalah Ramadhan Tahun ini
Saat aku bersama istriku berdo`a :
Tuhanku Atas berkah Bulan Ramadhan ini, Aku meminta Anak yang Sholeh-Sholehah,
Anak yang lahir dengan selamat, ibu yang melahirkan dengan selamat, keduanya hidup
Lahir dengan Mudah ”
Tanpa pendarahan
Tanpa Robek

Ya Allah,
Aku merasakan betapa pedihnya ditinggalkan anak pertamaku
Maka atas ketabahan dan cobaanMu “Ditinggal mati oleh Anakku,
Aku meminta Selamatkanlah Anakku yang kedua yang masih dalam kandungan istriku.
jadikanlah Anak kedua ini sebagai ganti Anak kami yang pertama
Jadikanlah kami orang tua yang pantas mengasuh Anak – anak Kami Ya Tuhanku

Ya Robb Penguasa Dunia dan Akherat
Terimakasih atas anugerah Terindah
Mempertemukanku dengan Ramadhan
melebihi Indahnya pertemuan dua kekasih hati.

Ramadhan ini : Ramadhan Terbaik
dan
aku menuliskan dalam bait-bait puisi Ramadhan
dengan (tanpa) indah

 

ILYAS AFSOH

Advertisements

2 thoughts on “Ramadhan Terindah Adalah Tahun ini (Sebuah Puisi Hati)

  1. Samaranji

    Assalamu’alaikum,,,, Mas Ilyas….

    Mohon maaf, jika selama berinteraksi dng mas ilyas, saya banyak membuat @mas kecewa….
    Mohon maaf jika ada kesalahan kata saya (pasti ada lah)
    Baik yang disengaja maupun tidak
    Baik secara langsung maupun tidak langsung
    Sekali lagi mohon dimaafkan.

    Marhaban Ya Romadhon 1432 H….

    Salam Sungkem
    Haris Samaranji

    Like

    Reply
  2. Pingback: Pedoman Lailatul Qodar « ilyasafsoh.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s